Lulusan pondok pesantren

Menjadi anak pondok, lulusan pesantren atau paling tidak pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren beberapa bulan, merupakan pengalaman yang luarbiasa. Konon tidak semua orang bisa betah dan tahan menjalani kehidupan yang serba sederhana, mandiri dan dituntut bisa menyelesaikan permasalahan hidup sendiri. 
Sudah bukan hal baru kalau ada santri yang tidak betah di pondok dan memilih berhenti, yang lain nyoba-nyoba alias icip-icip pesantren kalau-kalau ada pesantren yang memberikan fasilitas dan peraturan yang tidak ketat. Dunia pesantrenpun akhirnya menjawab tantangan itu sehingga kita temui beragam pesantren mulai lahir dengan jenis dan layanan yang ditawarkan. Ada yang fokus memperkuat hafalan Qur'an, bahasa arab, ilmu syariah, atau kolaborasi antara semuanya bahkan beberapa tempat mengajarkan semua ilmu umum dan ilmu agama sehingga tidak fokus dan cenderung tidak punya jatidiri. Terlepas dari itu semua kita kembalikan kepada diri masing-masing karena semua lembaga pendidikan tersebut pada dasarnya baik dan ingin memberikan yang terbaik. 

Bahasa arab adalah muatan lokal bahkan program khusus di hampir semua pesantren di indonesia. Beberapa pesantren menjadikan itu sebagai program unggulan yang lainnya hanya sebatas kelas sampingan. Akan tetapi mayoritas pesantren menjadikan bahasa arab sebagai program yang selalu di nomorsastukan atau paling tidak di bawah satu tingkat setelah program tahfidzul qur'an. 

Dengan demikian apakah semua lulusan pesantren lantas bisa berbahasa arab atau bisa membaca kitab-kitab bahasa arab? Hal ini akan saya jabarkan kedalam beberapa point dibawah ini:

Kwalitas bahasa arab lulusan pesantren

Mempelajari bahasa arab di pondok pesantren memang langkah bagus untuk ditempuh, selain lingkungan yang mendukung, kita juga bisa menjumpai teman-teman yang sama-sama belajar dan satu tujuan. Meskipun sebenarnya tidak semua orang dipesantren akhirnya menyukai bahasa arab paling tidak mereka terpaksa belajar bahasa arab dan berbicara bahasa arab. 

Dipondok pesantren rata-rata mewajibkan santrinya untuk berbicara bahasa arab bahkan di beberapa tempat ada yang mewajibkan bahasa inggris pada minggu kedua dan keempat. Bagi santri baru tentunya ini menjadi stressfull dan tantangan tersendiri karena bagaimanapun juga mereka akan kena sangsi atau teguran jika berbicara bahasa arab. Tidak heran kalau mereka sering bawa kamus, atau jarang berbicara didepan pengurus bagian bahasa.

Setelah satu tahun berlalu akhirnya mereka bisa berbicara bahasa arab dengan logat bahasa indonesia disertai dengan tata bahasa yang mungkin ada salahnya. Dua tahun hingga empat atau enam tahun berlangsung akhirnya mereka bisa berbicara bahasa arab. Akan tetapi bahasa arab yang mereka gunakan ternyata masih jauh sekali dari sempurna. itu terjadi karena masih banyaknya lulusan pesantren yang tidak lulus di universitas luar negeri arab saudi maupun timur tengah. 

Selain itu, ketika mereka dihadapkan dengan satu kitab berbahasa arab banyak juga dari mereka yang enggan untuk membaca atu menterjemahkan. Ini membuktikan bahwa setelah lulus dari pondok pesantren mereka tetap harus mendalami lagi bahasa arabnya dan juga atribut lainnya seperti kitab-kitab berbahasa arab bertema syariah atau non-syariah. 

Alasan lain mengapa kwalitas lulusan pondok pesantren (setingkat SMP-SMA|) masih kurang dan harus meneruskan belajar adalah terbukti berbondong-bondong dari mereka yang memilih kuliah jurusan bahasa arab dan juga ilmu syariah di universitas timur tengah atau universitas milik arab saudi yang ada di riyadh atau di jakarta, aceh atau medan seperti LIPIA jakarta misalnya. Ini membuktikan bahwa lulus dari pondok pesantren tidak serta merta ahli dalam bahasa arab dan bisa baca kitab bahasa arab, kecuali mungkin kitab yang memang sudah di pelajari di pesantren, akan tetapi jika dihadapkan dengan buku bahasa arab lain seperti misalnya novel bahasa arab, buku bisnis berbahsa arab, sejarah berbahasa arab dan disiplin ilmu lainnya mereka pasti angkat tangan. 

Bukan lulusan pesantren bisa bahasa arab

Apakah bukan lulusan pesantren bisa bahasa arab? Tentu saja bisa, apalagi di zaman sekarang dimana teknologi semakin maju dan merata. Jika melihat kwalitas lulusan pesantren dalam berbicara bahasa arab, pastinya hingga level seperti mereka sangat-sangat bisa di lampaui, tergantung siapa yang mengajarkan dan juga sesering apa mereka latihan. 

Kalau kamu tidak mau mondok tapi ingin bisa bahasa arab, kamu bisa menjumpai pengajar yang kompeten dibidangnya, bukan hanya lulusan pesantren tapi juga mahasiswa atau lulusan universitas dimana mereka selalu berinteraksi dengan orang arab langsung. Mengapa demikian? karena jika kamu belajar dari lulusan pesantren saja otomatis kamu akan berada di level dibawah guru yang lulusan pesantren. Akan beda jika kamu belajar kepada guru lulusan universitas timur tengah atau mahasiswanya. Mereka lebih pasih dalam berbicara bahasa arab dan tata bahasa yang di ajarkan benar-benar bahasa orang arab bukan bahasa indonesia yang di arabkan. 

Bagaimana menemukan guru yang berkwalitas?

Kamu bisa menggunakan layanan kami di program private online belajar bicara bahasa arab. Media yang kami gunakan adalah video conference yang bias kamu pilih dan dikomunikasikan dengan ustadznya. Kalau kamu lebih enak dengan zoom, video call atau yang lainnya kamu bisa request. Alasan mengapa harus pilih layanan kami adalah karena guru kami berkwalitas dan merupakan alumni dan juga mahasiswa yang belajar bahas arab langsung dari orang arab di universitas-universitas arab saudi dan timur tengah. 

Kami sadari bahwa mencari guru berkwalitas itu sulit, salah satu alasannya adalah karena biasanya mereka sibuk dengan kegiatan inti mereka. Dengan layanan kami, kamu bisa bertemu dengan mereka secara daring. Mengapa daring? tentu saja alasannya sama yaitu kegitan mereka yang sibuk dan bahkan sedang menuntut ilmu dan mendalami bahasa arab lebih dalam lagi. Selain itu juga posisi mereka yang sedang di luar negeri atau diluar pulan yang jauh dari jakarta. 

Kalau kamu mulai tertarik dengan layanan ini kamu bisa klik menu OUR SERVICE diatas atau klik link ini













Syaikhu Badrudddin
Hanya pembelajar biasa. Yuk belajar bareng Minimal tiap hari "berusaha" lebih baik.

Related Posts

Post a Comment